KOMPAS.com – Wacana guru dilarang memberikan pekerjaan rumah ( PR) kepada siswa memang mengundang pro dan kontra. Pasalnya selama ini PR menjadi cara dalam memperdalam pemahaman, melatih tanggung jawab serta kemandirian siswa di tengah waktu tatap muka yang terbatas.

Bahkan PR menjadi salah satu jurus untuk mengurangi waktu siswa melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat seperti bermain gadget.

Terbitnya peraturan ini bukan tanpa alasan, lewat peraturan ini diharapkan siswa memiliki waktu lebih banyak dengan keluarga serta membangun pendidikan karakter dalam keluarga dan masyarakat.

“Sejatinya kebersamaan keluarga serta pendidikan karakter bisa terbentuk melalui PR yang diberikan guru. Hanya diperlukan kreativitas guru dalam ’membungkus’ PR dalam ’kemasan’ yang berbeda dan tidak monoton,” ujar Sri Rahayu, Guru MI Al-Falah, Ujung Menteng, Jakarta seperti dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Berikut beberapa tips agar PR mampu mempererat hubungan anak dan orangtua:

1. Penugasan siswa dan orangtua

Secara jelas guru dapat memberikan PR untuk dikerjakan siswa bersama orangtua. Misalnya, “Kerjakan soal di bawah ini dengan orang tuamu!” Dengan kalimat perintah jelas, anak-anak akan mengajak orangtua menyelesaikan PR bersama. Orangtua dan anak akan mencari solusi bersama dalam pemecahan masalah.

2. Melibatkan lingkungan

PR sebaiknya diberikan mengaitkan tema lingkungan sekitar. Buatlah soal yang penyelesaiannya membutuhkan keterangan orangtua maupun tetangga sehingga anak-anak bisa berbaur dengan masyarakat sekitar.

Misalnya, “Bagaimana keadaan lingkungan rumahmu 10 tahun lalu?” atau “Tanyakan penjual bakso di sekitar rumahmu, berapakah harga satu posri bakso miliknya? Berapa banyak rata-rata porsi yang terjual selama satu hari. Berapa modal yang harus ia keluarkan. Hitunglah keuntungan/kerugiannya?”
Atau “Berapakah usia ayahmu? Berapa usia ibumu? Hitunglah selisihnya?” atau “Deskripsikan keadaan tempat yang berjarak 20 meter arah utara dari rumahmu?” Bisa juga “Dari daerah manakah orang tuamu berasal? Ceritakan makanan khas daerah kesukaan orang tuamu!” dan sebagainya.

Dengan demikian, anak dapat belajar mata pelajaran terkait melalui pengenalan lingkungan.

3. Aplikatif dan menantang

Pekerjaan rumah aplikatif biasanya lebih menarik minat siswa. Misalnya, anak diberi tugas mengolah makanan dari tumbuhan menjadi produk makanan atau minuman sederhana, lalu mintalah mereka menjualnya di sekitar rumah.

Anak diminta untuk menghitung keuntungan dan kerugian hasil penjualan dan membuat laporannya. Dengan demikian anak diajarkan untuk mengenal konsep matematika dengan aplikasi langsung.

4. Beri cukup waktu 

Berikan waktu cukup untuk mengerjakan PR. PR menjadi terasa berat karena jumlah tugas diberikan tidak sesuai dengan waktu yang dimiliki.

Perhitungkan waktu dengan tepat agar siswa tetap bisa terlatih dalam memanajemen waktu tetapi juga tidak memberi beban berlebihan.

Sejatinya PR bukanlah ’tokoh jahat’ dalam merampas waktu kebersamaan anak dan keluarga. Bahkan sebaliknya, PR dapat memberi manfaat. Namun, tidak sedikit anak-anak yang merasa terbebani.

Dengan sedikit kreativitas pemberian PR sekaligus dapat menjadi sarana pendidikan karakter luar kelas dan meningkatkan interaksi anak dan orang tua serta masyarakat sekitar.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Jadikan PR Perekat Keluarga, Kok Bisa?”, https://edukasi.kompas.com/read/2018/08/19/11120071/jadikan-pr-perekat-keluarga-kok-bisa.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *